Seorang
laki-laki paruh baya terlihat berpikir dalam. Beliau merupakan pimpinan
sebuah madrasah ternama seantero Indonesia. Apa yang beliau pikirkan?
Rupanya kualitas lulusan sekolah yang dipimpinnya kini sedikit demi
sedikit menurun. Eh, yang turun bukan nilai ujian nasional. Kalau itu
mah tak perlu diragukan lagi kredibilitas siswa-siswi di sana.
Top Be Ge Te. Termasuk 10 besar di negeri ini.
Yang
sedang beliau pikirkan adalah kualitas moral lulusan yang cenderung
berbeda dengan lulusan awal-awal tahun dibukanya sekolah ini. Kabar dari
beberapa guru terdengar bahwa mulai ada siswi yang lepas jilbab setelah
tidak lagi sekolah di sana. Kesantunan siswa yang perlahan pudar.
Sesuatu yang tidak beliau harapkan tentunya. Uniknya, beliau dan para
guru sekolah ini tak hanya memikirkan murid ketika sekolah di sana saja,
tetapi juga setelah mereka lulus. Bagaimana menjaga mereka tetap
berjalan dalam jalan kebenaran, bagaimana mereka tetap memegang kebaikan
yang diajarkan guru di sekolah ini sebagai bekal kehidupan dewasa
hingga akhir hayat kelak.
Segera saja survei kecil-kecilan
diadakan, terhadap sistem pendidikan di sekolah,kurikulum, guru, maupun
metode mengajar guru. Beliau membandingkan kelebihan dan kekurangan
sejak awal sekolah ini berdiri hingga menghasilkan lulusan sampai
sekarang. Sampai beliau tersadar dengan apa yang terjadi di sekolah.
Mengapa siswa-siswi tak lagi terlihat benar-benar menginternalisasi apa
yang disampaikan oleh guru.
Beliau pun menemui seorang lelaki yang dirasa pantas menjadi guru di sana,
"Pak, mengajarlah di sekolahku, kami butuh bantuan Anda."
Lelaki ini terkejut diminta tiba-tiba untuk mengajar di sekolah yang luar biasa bagus ini,
"Bukan
saya bermaksud apa-apa, namun Bapak tahu sendiri bahwa saya hanya lulus
SMA."Pak Kepala Sekolah ini pun tersenyum menenangkan,
"Justru karena saya tahu itu, saya memilihmu untuk membantu sekolah kami."
Lelaki itu terheran-heran. Pak Kepala Sekolah pun melanjutkan penjelasannya,
"Engkau
hanya lulusan SMA, tapi jiwamu menjadi seorang pendidik begitu tulus.
Orang seperti dirimu lah yang pantas menjadi guru."Kepala Sekolah masih
melanjutkan, "Semenjak sekolah kami mensyaratkan titel S1, S2, S3
sebagai syarat menjadi guru. Kami banyak kehilangan orang sepertimu yang
mengajar dengan sepenuh hati karena kecintaan hati pada mendidik. Yang
mengajar bukan karena mencari sejumlah uang, tapi mengajar siswa karena
keinginan untuk memperbaiki diri mereka menjadi generasi yang mencintai
Allah dari lubuk hati."
Tersentuh lelaki itu mendengarnya.
"Baiklah Pak, saya akan membantu semampu saya.
Semoga Allah senantiasa membimbing langkah kita semua."
---
Tersentuh saya mendengar penuturan kisah ini.
Bukan
apa-apa, bagi yang mendengar ketulusan jiwa seorang pendidik, yang
menyemai Al Qur'an dalam hati seorang siswa, yang paham betul mengapa
dia harus mengajar.
Istilahnya, menjiwai betul sebagai pendidik.
Ia
akan menyadari dari hati bahwa mengajar itu sebuah bentuk cinta yang
lain pada keberlanjutan generasi bangsa. Apakah siswa itu benar-benar
bisa melakukan apa yang disampaikan guru. Apakah siswa ini membutuhkan
penjelasan mengenai sesuatu. Hal detil mengenai siswa akan menjadi
perhatian guru.
Ia akan mengajar sepenuh hati karena panggilan jiwa, begitu orang-orang bilang.
Semakin
tinggi jenjang pendidikan, harapannya mampu meningkatkan jiwa
pendidik.Hanya dalam realita, nampaknya tak seluruhnya demikian. Bukan
berarti lebih baik tidak naik jenjang pendidikan, justru itu sebagai
pemacu semangat untuk meningkatkan pemahaman ilmu agar semakin terasah
kecintaan diri terhadap mendidik setelah naik jenjang pendidikan.
#SelamatDatangGenerasiBerjiwaP
endidik
Zulfa Fadha'il Izzah
21 April 2014
07.48
Selasar CND, Gedung Merah
 |
| Semoga tidak jadi guru yang seperti ini apapun keadaan muridnya^^ |
 |
| Tapi jadi guru yang sesabar ini dan secinta ini dalam mendidik muridnya |