Jumat, 02 Januari 2015

Pesan Ali

Wahai anakku!
Dunia ini bagaikan samudera tempat banyak ciptaan-ciptaan-Nya yg tenggelam.
Maka jelajahilah dunia ini dengan menyebut nama Allah.
Jadikan ketakutanmu pada Allah sebagai kapal-kapal yang menyelamatkanmu.
Kembangkanlah keimanan sebagai layarmu, logika sebagai pendayung kapalmu,ilmu pengetahuan sebagai nahkoda perjalananmu, dan kesabaran sebagai jangkar dalam setiap badai cobaan.(Ali bin Abi Thalib ra)

status fb dari Rianensi Oktavia, Agustus 2014

Selasa, 30 Desember 2014

Sepanjang Jalan Kenangan

Seorang Ibu berusia 40 tahunan menoleh padaku dengan senyumnya yang menawan hati, "Kamu sudah hafal surat An-naba kan'?" Oh tidak, tak terbayangkan sedikit pun perjalanan ini bakal jadi salah satu perjalanan paling kurindukan dan menenteramkan. Ibu itu mengulurkan Al Quran berukuran besar padaku, memintaku membuka awalan juz 30 dan menyimak hafalannnya. Di tengah laju kencang kendaraan yang membawa kami ke tujuan kota provinsi, suara merdunya yang tartil dan tepat tajwidnya pun menyihirku.

Bahkan saking terharunya, suara hafalan beliau terasa mengiris bagai sembilu. Air mata hati meleleh menahan kesedihan dengan hafalanku yang tak seberapa dan masih banyak tajwid perlu dibenahi. Ia sungguh memberikan ketukan hati yang dahsyat lewat hafalannya, bahwa usia tak membatasi seseorang dalam beribadah. Yang muda tak semudah orang yang lebih tua dalam menghafal jika tak dibarengi dengan azzam (tekad) dan jiddiyah (kesungguhan).

Ibu ini terus melanjutkan murojaah hafalannya dari awal juz 30 hingga akhir juz 30 tanpa terganggu kencangnya laju kendaraan. Ku menyimak Al Qur'an besar ibu itu sambil berpikir bagaimana bisa hafalan Ibu ini belum ada salahnya dan begitu lancar. Biasanya ketika melihat tulisan di kendaraan yang bergerak, aku merasa pusing. Tapi ini sungguh terasa sangat mengesankan sampai tak ingat lagi dengan rasa pusing. Tubuh ini berkompromi ingin mendengarnya sampai selesai. Dan satu jam terasa bagai berkendara menuju hamparan taman surga dengan bau rumput segar yang meluasakan dada.

Aku masih terkejut, ketika usai hafalan itu, Ibu itu menyampaikan bahwa ia sudah menghafal pula surat Al Baqoroh. Ya, surat terpanjang dalam Al Qur'an dengan panjang 2 juz lebih beberapa halaman. Ibu itu juga menyampaikan bahwa teman-temannya sesama penghafal bahkan ada yang bisa melantunkan murojaah 1 juz tanpa ada kesalahan. Ma Syaa Allah. Usia teman-temannya juga ada yang kepala 5. Ada juga yang tetap bisa menghafal meski sibuk bekerja menafkahi keluarga.

Pipi terasa tertampar tak kasat mata. Jiwa mudaku terbangkitkan dengan semangat orang-orang tua itu. Ya Allah, permudahkanlah kami dalam menjalankan wasiat Rasulullah, berpegang pada Al Quran dan Sunnah, termasuk menjaga, menghayati, mengahafal, dan menjadikannya bagian dari nafas kami selama hidup.

Terima kasih Bu,
Perjalanan jumat dan ahad (26-28/12) dari kota M ke kota B selama 3 jam yang luar biasa.
Barokallah ^^

ditulis Selasa, 30 Desember 2014, 14.59
di tengah semilir angin tengah rumah tercinta
Kota Pecel
ZFI

Senin, 29 September 2014

Penonton atau Penggerak

Puluhan novel bahkan ratusan buku telah dibaca orang ini. Ia pun punya banyak pengetahuan. Betul pengetahuan yang luas dan tak mendalam.
Ia sangat pintar. Ia betul, mungkin dia sangat bisa ketika ditanya tentang banyak hal.
Hanya saja perlu dicermati lebih dalam, bisakah dia melakukan apa yang dia tau?
Dapatkan ia mengamalkan seluruh ilmu yang ia tau?
Yang berguna bagi apapun dan siapapun di sekitarnya.
Inilah bedanya "penonton" dengan "penggerak".
Seseorang terus menerus memposisikan dirinya hanya sebagai pengamat, penglihat, pembaca, namun tak juga mau mengambil langkah sebagai pembuat, penggerak, dan pencetus, maka segalanya hanya akan berguna bagi diri sendiri.
Sungguh, ketika berlalu waktu orang itu, berlalu pula segala kenangan tentangnya karna tak ada sesuatu yang tertoreh dan tertinggalkan sebagai jejak orang yang pernah luar biasa itu di mata orang lain, atau di sekitarnya.
Maka mulailah bertekad tak hanya melihat, tapi mencari tau, menganalisis, lalu bergerak, membuat suatu karya perubahan dari hal kecil sekalipun yang bisa dirasakan manfaatnya bagi sekitar :)

Sabtu, 13 September 2014

Segelas Air

Satu dua tiga orang di sekitar terlihat sangat mengagumkan dan begitu membanggakan.
Mereka berbuat sesuatu yang mengundang decak kagum orang lain. Mencetuskan ide besar, pergi ke tempat keren, dan membuat suatu karya hebat.
Mereka bukan lagi orang jauh yang namanya hanya didengar, tapi karna hubungan itu lebih dekat sebab ternyata saling mengenal satu sama lain, dan bahkan dekat dalam kehidupan pribadi satu sama lain, membuat perasaan orang satu ini menjadi begitu peka.
Orang satu ini biasa-biasa saja, tak juga melakukan hal besar, pergi ke tempat keren, atau membuat karya yang hebat. Padahal ia mengenal dekat orang-orang hebat itu, bahkan menjadi sahabatnya. Namun mengapa dirinya biasa-biasa saja tak kunjung dia tau sebabnya.
Kini seseorang di sampingnya ia tanyai, "Apakah aku sebaiknya seperti dia ya? atau dia?"
Dengan santainya seseorang itu menjawab, "Ah, apa pentingnya kamu seperti dia atau dia. Paling penting bagiku, kamu menikmati betul setiap yang kau lakukan. Bukankah mereka hebat salah satunya karna punya sahabat sepertimu?"
Senyum itu pun terbit bagai sinar hangat mentari yang mengilhami kesyukuran.
Subhanallah, proses menikmati itulah yang mendatangkan kebahagiaan. Kesyukuran pada setiap hal.
Alhamdulillah..
Sebanyak apakah lafal itu terucap hari ini? ^~

9.31 pm
13 sept 2014
Kotak Kecil

Senin, 08 September 2014

Jangan Mau Menjadi Pemalas


Satu-satunya sikap yang bisa membawamu pada kenyamanan masa kini adalah kemalasan.
Tapi dia pulalah yang akan mengantarkanmu kepada keburukan di masa depan.
Mungkin kamu yang pemalas senang-senang saja ketika temanmu yang lain sigap mengumpulkan tugas kuliah sementara kamu tak megerjakannya tanpa rasa berdosa, temanmu yang lain sibuk bimbingan skripsi sementara kamu tiduran di kostan tiada henti.
Tapi tunggulah dalam beberapa tahun saja, kamu akan menelan pahitnya merasa kesepian ketika yang lain telah mampu berdiri bahkan berlari menuju karir yang cemerlang sementara kamu masih terdiam di kos-kostan.
Di situlah yang kamu temukan adalah penyesalan sob,

So, daripada bersenang-senang terlalu dini mending berupaya semaksimal mungkin selagi muda. Ukir prestasi, maksimalkan potensi diri.
Jauhkan dari sikap malas yang akan menjebakmu ke masa depan yang suram.
(Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian).”
[HR. Bukhari dan Muslim]
Boleh di-SHARE

Setia Furqon Kholid

Senin, 21 April 2014

Pak, Kupilih Kau Karena Jiwamu

Seorang laki-laki paruh baya terlihat berpikir dalam. Beliau merupakan pimpinan sebuah madrasah ternama seantero Indonesia. Apa yang beliau pikirkan? Rupanya kualitas lulusan sekolah yang dipimpinnya kini sedikit demi sedikit menurun. Eh, yang turun bukan nilai ujian nasional. Kalau itu mah tak perlu diragukan lagi kredibilitas siswa-siswi di sana. Top Be Ge Te. Termasuk 10 besar di negeri ini.

Yang sedang beliau pikirkan adalah kualitas moral lulusan yang cenderung berbeda dengan lulusan awal-awal tahun dibukanya sekolah ini. Kabar dari beberapa guru terdengar bahwa mulai ada siswi yang lepas jilbab setelah tidak lagi sekolah di sana. Kesantunan siswa yang perlahan pudar. Sesuatu yang tidak beliau harapkan tentunya. Uniknya, beliau dan para guru sekolah ini tak hanya memikirkan murid ketika sekolah di sana saja, tetapi juga setelah mereka lulus. Bagaimana menjaga mereka tetap berjalan dalam jalan kebenaran, bagaimana mereka tetap memegang kebaikan yang diajarkan guru di sekolah ini sebagai bekal kehidupan dewasa hingga akhir hayat kelak.

Segera saja survei kecil-kecilan diadakan, terhadap sistem pendidikan di sekolah,kurikulum, guru, maupun metode mengajar guru. Beliau membandingkan kelebihan dan kekurangan sejak awal sekolah ini berdiri hingga menghasilkan lulusan sampai sekarang. Sampai beliau tersadar dengan apa yang terjadi di sekolah. Mengapa siswa-siswi tak lagi terlihat benar-benar menginternalisasi apa yang disampaikan oleh guru.

Beliau pun menemui seorang lelaki yang dirasa pantas menjadi guru di sana,
"Pak, mengajarlah di sekolahku, kami butuh bantuan Anda."
Lelaki ini terkejut diminta tiba-tiba untuk mengajar di sekolah yang luar biasa bagus ini,
"Bukan saya bermaksud apa-apa, namun Bapak tahu sendiri bahwa saya hanya lulus SMA."Pak Kepala Sekolah ini pun tersenyum menenangkan,
"Justru karena saya tahu itu, saya memilihmu untuk membantu sekolah kami."
Lelaki itu terheran-heran. Pak Kepala Sekolah pun melanjutkan penjelasannya,
"Engkau hanya lulusan SMA, tapi jiwamu menjadi seorang pendidik begitu tulus. Orang seperti dirimu lah yang pantas menjadi guru."Kepala Sekolah masih melanjutkan, "Semenjak sekolah kami mensyaratkan titel S1, S2, S3 sebagai syarat menjadi guru. Kami banyak kehilangan orang sepertimu yang mengajar dengan sepenuh hati karena kecintaan hati pada mendidik. Yang mengajar bukan karena mencari sejumlah uang, tapi mengajar siswa karena keinginan untuk memperbaiki diri mereka menjadi generasi yang mencintai Allah dari lubuk hati."
Tersentuh lelaki itu mendengarnya.
"Baiklah Pak, saya akan membantu semampu saya.
Semoga Allah senantiasa membimbing langkah kita semua."

---
Tersentuh saya mendengar penuturan kisah ini.
Bukan apa-apa, bagi yang mendengar ketulusan jiwa seorang pendidik, yang menyemai Al Qur'an dalam hati seorang siswa, yang paham betul mengapa dia harus mengajar.
Istilahnya, menjiwai betul sebagai pendidik.
Ia akan menyadari dari hati bahwa mengajar itu sebuah bentuk cinta yang lain pada keberlanjutan generasi bangsa. Apakah siswa itu benar-benar bisa melakukan apa yang disampaikan guru. Apakah siswa ini membutuhkan penjelasan mengenai sesuatu. Hal detil mengenai siswa akan menjadi perhatian guru.
Ia akan mengajar sepenuh hati karena panggilan jiwa, begitu orang-orang bilang.
Semakin tinggi jenjang pendidikan, harapannya mampu meningkatkan jiwa pendidik.Hanya dalam realita, nampaknya tak seluruhnya demikian. Bukan berarti lebih baik tidak naik jenjang pendidikan, justru itu sebagai pemacu semangat untuk meningkatkan pemahaman ilmu agar semakin terasah kecintaan diri terhadap mendidik setelah naik jenjang pendidikan.

#SelamatDatangGenerasiBerjiwaPendidik

Zulfa Fadha'il Izzah
21 April 2014
07.48
Selasar CND, Gedung Merah
Semoga tidak jadi guru yang seperti ini apapun keadaan muridnya^^

Tapi jadi guru yang sesabar ini dan secinta ini dalam mendidik muridnya

Senin, 10 Maret 2014

Allah Rindu Kekasih-Nya


Ada kelebihan pada Nabi & Rasul ketika akan wafat, Allah mengutus malaikat pencabut nyawa untuk izin terlebih dahulu kepada sang Rasul apakah bersedia diambil nyawanya saat waktu itu. Kita mengenal dialog-dialog kisah malaikat Izra'il dengan Nabi Daud, dan Rasulullah saw ketika akan mencabut ruhnya. Kali ini, kisah Nabi Ibrahim ketika Izrail mengetuk pintu rumahnya saat waktu wafat hampir tiba.

Malaikat 'Izra'il: Assalamu'alaikum
Nabi Ibrahim: Wa'alaikumsalam, siapa engkau?
Malaikat 'Izra'il: Aku malaikat yg diutus Allah untuk mengambil nyawa engkau, wahai Nabi..

(Manusia mana yang tidak gemetar hatinya mendengar dirinya akan mati, sekalipun sekelas para Rasul? Namun, bedanya dengan manusia biasa, para Rasul menanggapinya dengan tawakkal dan penuh keikhlasan)

Malaikat Izrail: Aku diutus Allah untuk meminta izin terlebih dahulu akan mengambil ruhmu kembali, wahai Nabi Ibrahim. Berkenankah engkau?
Nabi Ibrahim: Bagaimana Allah tega mengambil nyawa kekasih-Nya sendiri?

Malaikat Izra'il pun kembali untuk bertanya pada Allah apa jawaban yang akan disampaikan pada Nabi Ibrahim, dan inilah jawaban dari Allah melalui malaikat.
Malaikat Izra'il: Bagaimana seorang kekasih tidak rindu bertemu kekasihnya?

#Subhanallah, cinta yang menggetarkan lubuk hati. Benar-benar kisah cinta yang murni dan meneteskan kerinduan bertemu Sang Khaliq :')
Allah pun akan rindu pada hamba-hamba-Nya yang benar-benar mencintai Allah di dunia dan mengharapkan pertemuan kembali kepada-Nya.


didengar dari taujih Ustad Tifatul Sembiring
Sabtu, 8 Maret 2014
pukul 17.00 WIB lebih
di Yogyakarta