Minggu, 10 Desember 2017

Kamu Perfeksionis? Great! Tapi Jangan Lupa Satu Ini

Perfeksionis. Serapan kata dari bahasa inggris perfectionist, artinya orang yang ingin segalanya sempurna. Baiknya, seseorang dengan selera seperti ini akan melakukan segalanya dengan usaha terbaik. Atau orang seperti ini hanya ingin hasil akhir yang sempurna? Tak peduli bagaimana caranya? No, big no!

Perfeksionis akan berusaha sempurna dari berbagai segi yang akan mendatangkan ketenangan hatinya. Biasanya, cara berpengaruh terhadap kepuasannya. Ia tak akan bernama perfeksionis jika dari proses saja tidak sesuai seharusnya yang akan menodai kriteria kesempurnaan versinya.

Orang perfeksionis biasanya lebih dipercaya kemampuannya dalam penyelesaian sesuatu. Ia tahu betul detailnya. But, yang perlu dicatat, orang perfeksionis boleh, tapi,

1. Jangan karena ingin sempurna, jadi molor dari tenggat waktu.

Terkadang orang perfeksionis ingin mengerjakan segalanya sendiri supaya betul-betul sesuai maksudnya. Tugas deadline tinggal beberapa menit demi rapi dan bagusnya tampilan tugas masih aja diedit lagi. Stop! Perfect boleh, tapi pertimbangkan juga hal lain yang akan menjadi aktivitas berikutnya terlambat atau tidak.

2. Jangan meremehkan orang lain

Hanya karena yang lain tampak tak lebih bagus pencapaiannya daripada sang perfeksionis, jangan sampai timbul rasa meremehkan. Itulah kejatuhan yang sebenarnya bagi para perfeksionis. Bisa jadi yang lain tampak tak sebaik punyanya, akan tetapi memberi kemanfaatan lebih banyak tanpa sepengetahuan sang perfeksionis.

3. Jangan berpikir bahwa semua orang punya pemikiran yang sama dengan sang perfeksionis.

Terkadang, sang perfeksionis akan berkata, bagaimana bisa dia tidak melakukan 'ini' dulu, kan dia seharusnya sudah berpikiran kesana. Kog bisa ya dia gak ngerti.

Nah, inilah penyakit orang perfeksionis. Terkadang ia terlalu berharap semua orang lain sesuai standardnya, dan menganggap standardnyalah yang paling baik. Orang lain yang tidak sesuai dianggapnya di bawah levelnya, padahal belum tentu demikian. Orang perfeksionis perlu belajar bahwa semua orang punya karakter berbeda-beda yang hendaknya dihargai dan diarahkan dengan semestinya jika nampak kurang tepat. Bukan untuk dicela.

Beberapa catatan di atas tak semua belum dijalankan sang perfeksionis. Jika kamu perfeksionis, beruntunglah. Dan jangan lupa tetap rendah hati :)

Senin, 04 Desember 2017

Ayun, Kamu Cantik

"Apa? Minta nomer hp ayahku, mas? Buat apa?" teriak Ayun pada ponsel yang terhubung dengan seseorang di seberang sana. Di tengah ia yang terburu-buru sedang bersiap memakai sepatu sebelum pergi ke kampus, seseorang menelpon. Tak sekadar menelpon, orang ini malah meminta nomer hp ayahnya. Katanya ada orang lain yang ingin serius melamar Ayun, meminta bantuan si penelpon untuk menghubungkannya ke Ayun.

Ayun setengah berlari tak peduli. Bersama langkah kaki yang cepat, memburu jam kuliah yang sebentar lagi dimulai, ia menjawab singkat bahwa ia tak ingin menikah sekarang. Jadi tidak perlu seseorang itu menghubungi ayahnya karena ia pasti akan menolak. Ayun masih ingin fokus kuliah. Sekarang saja aku kelabakan atur jadwal kuliah dan aktivitas luarku, gimana mau nikah, pikir Ayun dalam hati.

Secepat kilat ia menjawab, secepat itu pula orang di seberang sana menyudahi telepon dan Ayun pun menutup telepon tepat di luar kelas pagi ini. Ia menghela nafas sebentar lalu memutuskan segera masuk kelas. Pagi ini berjalan lancar. Ayun sudah melupakan telepon seseorang di pagi ini.

Waktu bergerak dari pagi ke siang hari. Kuliah Ayun sudah selesai dan tidak ada mata kuliah lagi yang harus diikuti. Selepas aktivitas kuliah, ia terngiang lagi telepon tadi pagi. Hatinya gundah gulana. Mengapa ada orang yang ingin memilihku sebagai pendamping hidupnya padahal aku tidak cantik? Apa yang dia lihat dari diriku, pikirnya berulang-ulang.

(Bersambung)

Senin, 27 November 2017

Senyum Madu

Ummi,
Kau tak sendiri.
Aku berdiri di sini,
Di belakangmu berlari.
Berusaha sejajarimu,
Yang waktu demi waktu,
Semakin dekati senja.
Tak berhenti walau sekejap saja.

Ummi,
Aku bisa merasa,
Meranamu sepanjang usia.
Senyum sendumu temani hari,
Yang tak kunjung berubah,
Seperti harapanmu.
Padahal tak seujung kuku
Pun, ada kata menyerah.

Ummi,
Tataplah Aku.
Lihatlah kesungguhanku.
Berlari menyejajarimu.
Tolong percayai,
Akan tiba manisnya waktu,
Memetik buah perjuanganmu.

Ummi,
Teruslah menguat.
Berdamai, dan berbahagia.
Tak putus mendoa,
Agar tiba masa,
Senyum abadimu,
Semanis madu.

Minggu, 26 November 2017

Resep Lele Kukus Bungkus Pisang

Bahan :
2 ekor Lele dipotong masing-masing jadi tiga untuk tiap bungkus daun pisang
3 siung Bawang merah
2 siung Bawang putih
1 butir kemiri
1 cabai merah panjang (jika suka pedas)
Gula garam secukupnya
Air secukupnya
Daun pisang untuk membungkus

Cara membuat :
1. Bersihkan lele dan cuci lalu potong-potong.
2. Daun pisang dibersihkan bisa dijemur dulu.
3. Iris bawang merah, bawang putih. Haluskan kemiri dengan garam
4. Siapkan daun pisang, bentuk seperti pincuk lalu tata lele, tuang bumbu di langkah nomor 3. Tambahkan gula
5. Tutup daun dengan 'biting'
6. Kukus di dandang sampai matang kurang lebih 30 menit.

Selamat mencoba

Sabtu, 18 November 2017

Pedang Usia

Detik demi detik
Waktu demi waktu
Bergulir
Berjalan
Berkurang
Ia bagai pedang
Menebas pada yang tak awas
Melibas kesempatan tak terganti
Sehat sebelum sakit
Muda sebelum tua
Kaya sebelum miskin
Lapang sebelum sempit
Hidup sebelum mati
Sudah kau gunakan untuk apa?
Kau toreh sejarah hidup sebagai apa?
Kita semakin dimakan usia
Mari senantiasa hidup bermakna

Jumat, 17 November 2017

Generasi Milenial Gak Suka Nulis?

Well, generasi melek internet dan dunia digital lainnya memang dominan menggunakan visual dan pencetan jari tangan untuk menikmatinya. Dan benarkah  memberikan efek tak suka menulis tangan? Coba cek satu per satu aktivitas bermedia digital ini,

1) Browsing
Istilah lainnya ada searching, googling, dan berselancar di dunia maya pada awalnya akrab dari urusan ingin mencari tau banyak informasi. Browsing dilakukan dengan mengetikkan keyword pada mesin pencari (search engine) lalu muncullah situs-situs terkait. Jadi, aktivitas yang dilakukan ketika browsing menggunakan jari tangan untuk mengetik keyword, memencet link situs, dan membaca isi situs. Tambahan aktivitas lainnya yakni bisa menyimpan, mengunduh dan juga membagi informasi.

2) Gaming
Yap. Bermain online. Situs khusus maupun fasilitas dari media sosial banyak sekali hobi nge-game. Aktivitas ini relatif banyak dilakukan dengan menonton dan menggerakkan jari tangan sesuai instruksi games. Games memang melatih kecepatan dan penyusunan strategi, bergantung jenis games-nya. Kalau gamesnya berupa isian kuis, barulah mengetikkan jawaban.

3) Blogging
Udah tahu, kan?? Blogging merupakan aktivitas membuat konten website agar memberi manfaat sesuai tujuan pembuat pada pengguna website. Nah, ini dia aktivitas dunia maya yang menuntut kreativitas otak dan kelihaian bahasa. Aktivitas blogging bermuatan tulisan paling sering menggunakan ketikan jari tangan untuk menulis, mengedit, dan mendesain tampilan.

4) Chatting
WhatsApp, Kakao, Line merupakan aplikasi-aplikasi berbasis chatting, yakni digunakan untuk fungsi komunikasi pesan tulis dan suara. Mengobrol semakin mudah dengan mengetikkan kata-kata lisan menjadi tulisan, atau merekam suara. Jaringan informasi berbentuk tulisan pun viral dari aktivitas berbagi para penggunanya. Namun pertanyaannya, seberapa banyak penulis informasi berbentuk tulisan dibanding para penyebarnya?

5) Posting Sosmed
Facebook, instagram, tweeter dominan menfasilitasi kegiatan posting para penggunanya. Status tulisan, bergambar, bisa di-upload setiap saat. Bagi yang suka menulis status panjang bisa, yang pendek pun bisa, bergantung aplikasi pendukung mana yang dipilih. Mengasah kebiasaan menulis? Bagi yang rajin posting tulisan, mungkin iya, karena ada pula rajin posting status pendek yang konten bahasanya lebih seperti bahasa chatting.

6) Watching
YouTube, Instagram, dan aplikasi penyedia film seperti Viu, Hooq, memanjakan mata para penggunanya. Tinggal klik, lalu tonton. Bisa tinggalkan komentar atau subscribe pada aplikasi seperti YouTube.

Jika diambil kesimpulan dari kegiatan generasi milenial di dunia maya, blogging, chatting, dan posting sosmed paling banyak menfasilitasi tulisan oleh pengguna. Bentuk tulisan pada aktivitas chatting kebanyakan berupa percakapan. Aktivitas blogging memuat bentuk tulisan hasil narasi mirip tulisan tangan, sedangkan posting sosmed bisa keduanya.

Lantas, apakah generasi milenial tidak suka menulis? Jika yang dimaksud menulis di atas kertas, generasi milenial yang memiliki gadget pribadi berupa handphone, laptop, tablet, dan semacamnya tentu lebih sering memilih mengetik di gadget. Jika yang dimaksud menulis adalah membuat tulisan hasil catatan membaca, mendengar ceramah, atau menuangkan gagasan baru, ini perlu disurvei lebih lanjut.

Faktanya, kebiasaan membaca buku orang Indonesia baru setingkat satu buku dibaca tujuh orang berbeda dengan Jepang yang satu orang membaca empat buku, padahal kebiasaan menulis banyak dipengaruhi kebiasaan membaca. Jika kebiasaan membaca orang Indonesia baru setingkat itu, tentu bisa diprediksi bukan bagaimana kebiasaan menulisnya? Ini menjadi pe-er bersama bangsa Indonesia.

Kamis, 16 November 2017

Asma Amanina

Sebuah lagu melantun syahdu didengarkan sepasang suami-istri berusia muda.
Allah ghayyatuna
Arrasul qudwatuna
Alquran dusturuna
Aljihad sabiluna
Almautu fiisabilillah, Asma Amanina

2007
Suatu siang menjelang sore di sebuah sekolah diniyah (agama), seorang ustadz bertanya pada murid-muridnya,
"Hari ini saya akan bertanya apa cita-cita kalian."
Bergantian sang murid menyampaikan cita-cita mereka.
"Aku ingin jadi orang kaya."
Si ustadz tersenyum mengaminkan, "Bagus. Kenapa ingin jadi kaya?"
Si murid tadi menjawab, "Supaya bisa ngasih orang lain, tadz. Bisa beli apa aja."
Ustadz manggut-manggut.
"Berikutnya!"
"Saya ingin jadi pemilik perusahaan komputer," ujar seorang murid berkaca mata.
"Bagus. Kenapa?"
"Saya ingin menjadi salah satu pengembang teknologi di Indonesia supaya gak ketinggalan zaman."
Ustadz kembali tersenyum.
Lalu berkata, "Lanjut!"
Dengan malu-malu seorang murid perempuan ini berkata, "Saya ingin bertemu Allah."
Deg. Hati ustadz serasa disiram air sejuk, "Kenapa kamu ingin bertemu Allah?"
Si murid perempuan ini berkata, "Ustadz bertanya cita-cita, itu berarti tujuan hidup tertinggi. Saya ingin bertemu Allah yang sudah menciptakan saya. Saya cinta Allah. Kalau Allah di neraka, saya akan kesana, karena Allah di surga, saya pun ingin kesana."
Ustadz sejenak menunduk. Sebenarnya hanya ingin menyembunyikan air mata yang hampir tumpah. Saat menegakkan kepala, ustadz berkata, "Istiqomahlah kamu. Semoga Allah kabulkan keinginanmu."
Siang itu pun terasa lebih sejuk, dan menjadi memori berkesan di hati murid-murid sekolah diniyah.

Kembali ke sepasang suami-istri berusia muda yang sedang mendengarkan lagu tadi. Bunda membuka pembicaraan,
"Anak SMP tadi hebat ya Yah, memilih bertemu dengan Allah sebagai cinta dan muara kehidupan baginya. Ya, asma amanina (cita-cita tertinggi). Kita juga kan?"
Ayah menanggapi, "Anak itu pasti merasakan nikmatnya iman. Tentu saja kita juga. Pernikahan kita juga semata-mata untuk menggenapkan separuh agama."
"Kini murid-murid ustadz itu satu per satu sudah menikah dan berkeluarga."
"Bunda kenal anak perempuan itu?"
Bunda hanya menatap Ayah tersenyum. Hatinya merindukan masa-masa yang indah menimba ilmu agama bersama sang ustadz.

Allah adalah tujuan kami
Rasulullah tauladan kami
Al quran pedoman hidup kami
Jihad adalah jalan juang kami
Mati di jalan Allah adalah cita-cita kami tertinggi.